I had the pleasure of attending the Design on a Dime Benefit last night. The event was sponsored by Sears and Kmart and cochaired by Parker Posey and James Huniford. The event featured 50 room "vignettes" decorated by designers. New and vintage furniture and hosewares from the vingettes was sold at 60-80% off. There were some amazing deals to be had! And all of the proceeds went to Housing Works' facility the Stand Up Harlem House for low-income individuals and families affected by HIV and Aids. Overall the event was a lot of fun and a great success! Here are some photos I took at the event.
Friday, May 8, 2009
Housing Works Design on a Dime Benefit
I had the pleasure of attending the Design on a Dime Benefit last night. The event was sponsored by Sears and Kmart and cochaired by Parker Posey and James Huniford. The event featured 50 room "vignettes" decorated by designers. New and vintage furniture and hosewares from the vingettes was sold at 60-80% off. There were some amazing deals to be had! And all of the proceeds went to Housing Works' facility the Stand Up Harlem House for low-income individuals and families affected by HIV and Aids. Overall the event was a lot of fun and a great success! Here are some photos I took at the event.
Monday, May 4, 2009
Helvetica the Movie



I finally got around to renting Helvetica the Movie. I felt like a total design dork watching it. I am rather surprised that this movie has found a main stream audience. I am glad it has been so widely watched, because it gives people a look behind the curtain at all the things us designers are doing...hopefully people will have a new found appreciation for the art form.
Shown: Posters and promotions for the movie.
Finally, Rhapsodie with Scraft.....
"Sudah berdoa? Semoga surga seindah yang kau kira, dan... sayonara."
Post an kali ini gue kutip dari notesnya Haris, bukan ngutip sih, lebih tepatnya copy-paste atau yang lebih mudahnya bilang: ngebajak. Emang bener-bener dah penduduk Indonesia paling demen ngebajak punya orang.
Dari dulu gue minta ijin buat re-post. Tapi gak dapet ijin ama dia, pedit amat bocah. Hingga suatu hari dia mengijinkan gue untuk memajang notesnya di blog gue.
Ayo dibaca, it's keeeeeeeeeewl
"Cklek," dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Kau berada di sebuah ruangan kotor dan terduduk dengan tangan terikat di kursi kayu yang tidak terpakai selama 8 tahun. Ini bukan seperti cerita fiktif di film-film, dimana kau akan menemukan pecahan kaca dan segera memotong tali tambang setebal 1cm yang mengikat tanganmu. Kau tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, berteriak, bertanya "Kenapa?!" dan berusaha melepas ikatan di tanganmu yang sebenarnya, tak bisa dilepas meskipun kau berusaha sekuat apapun.
Di dalam ruangan terkutuk dimana kau terikat, tak ada sesuatu maupun seseorang yang bisa menolongmu melepas ikatan keras di tanganmu dan membantumu kabur. Hanya ruangan kotor dengan 2 jendela kecil yang berjarak 3 meter belakangmu, sebuah kursi usang yang kau duduki, sebuah lampu meja biliar yang menerangimu dari atas kepalamu, sebuah lemari penuh debu yang berisi botol-botol minuman keras di sebelah kirimu, dan seorang pembunuh yang mengarahkan pistol 9mm miliknya di depanmu. Ingin berteriak minta tolong? Silakan. Takkan ada seorang pun yang akan mendengar teriakanmu kecuali si pembunuh yang hanya menganggapmu sebagai bangkai tikus yang terbaring di jalan sempit.
Apa yang bisa kau lakukan? Yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh dengan "senyum manis"-nya itu. Apakah dia akan mengatakan, "Sudah berdoa? Semoga surga seindah yang kau kira, dan... sayonara." BLAM! sebuah peluru melubangi kepala yang didalamnya hanya berisi gumpalan sampah yang kau namakan otak itu, atau, dia akan mengatakan, "Aku tidak akan membunuhmu. Aku membutuhkanmu. Ikuti aku." dan kau mengikuti si pembunuh demi keselamatan dirimu sendiri yang tidak berharga itu.
Ketika seorang pembunuh mengarahkan pistolnya tepat ke depan wajahmu. Tak ada yang bisa kau lakukan. Itulah keadaan dimana kau berada sekarang. Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada apapun yang bisa menolongku. Aku hanya bisa menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh yang menentukan hidup dan matiku. Apa yang akan si pembunuh lakukan? Apa yang akan si pembunuh lakukan? Oh, tidak! dia meletakkan jari telunjuknya pada pelatuk pistol brengsek itu. Aku memohon, mengeluarkan berjuta-juta kalimat agar aku tidak dibunuh oleh si pembunuh yang mungkin akan segera mengakhiri hidupku dalam kurun waktu 1 menit lagi. Aku mencoba sekuat tenaga melepas ikatanku, bagai mencoba menghancurkan tembok hanya dengan jari kelingkingku. Dan aku hanya membuat darah keluar semakin banyak dari kedua pergelangan tanganku.
Ketika seorang pembunuh mengarahkan pistolnya tepat ke depan wajahku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, berteriak, bertanya "Kenapa?!" dan berusaha melepas ikatan di tanganku yang sebenarnya, tak bisa dilepas meskipun aku berusaha sekuat apapun. Aku hanya bisa menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh. Dan apakah keputusan si pembunuh? Si pembunuh membisikkan sebuah kalimat ke telingaku,
"Sudah berdoa? Semoga surga seindah yang kau kira, dan... sayonara."
Dari dulu gue minta ijin buat re-post. Tapi gak dapet ijin ama dia, pedit amat bocah. Hingga suatu hari dia mengijinkan gue untuk memajang notesnya di blog gue.
Ayo dibaca, it's keeeeeeeeeewl
"Cklek," dan kau tak bisa berbuat apa-apa. Kau berada di sebuah ruangan kotor dan terduduk dengan tangan terikat di kursi kayu yang tidak terpakai selama 8 tahun. Ini bukan seperti cerita fiktif di film-film, dimana kau akan menemukan pecahan kaca dan segera memotong tali tambang setebal 1cm yang mengikat tanganmu. Kau tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, berteriak, bertanya "Kenapa?!" dan berusaha melepas ikatan di tanganmu yang sebenarnya, tak bisa dilepas meskipun kau berusaha sekuat apapun.
Di dalam ruangan terkutuk dimana kau terikat, tak ada sesuatu maupun seseorang yang bisa menolongmu melepas ikatan keras di tanganmu dan membantumu kabur. Hanya ruangan kotor dengan 2 jendela kecil yang berjarak 3 meter belakangmu, sebuah kursi usang yang kau duduki, sebuah lampu meja biliar yang menerangimu dari atas kepalamu, sebuah lemari penuh debu yang berisi botol-botol minuman keras di sebelah kirimu, dan seorang pembunuh yang mengarahkan pistol 9mm miliknya di depanmu. Ingin berteriak minta tolong? Silakan. Takkan ada seorang pun yang akan mendengar teriakanmu kecuali si pembunuh yang hanya menganggapmu sebagai bangkai tikus yang terbaring di jalan sempit.
Apa yang bisa kau lakukan? Yang bisa kau lakukan hanyalah menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh dengan "senyum manis"-nya itu. Apakah dia akan mengatakan, "Sudah berdoa? Semoga surga seindah yang kau kira, dan... sayonara." BLAM! sebuah peluru melubangi kepala yang didalamnya hanya berisi gumpalan sampah yang kau namakan otak itu, atau, dia akan mengatakan, "Aku tidak akan membunuhmu. Aku membutuhkanmu. Ikuti aku." dan kau mengikuti si pembunuh demi keselamatan dirimu sendiri yang tidak berharga itu.
Ketika seorang pembunuh mengarahkan pistolnya tepat ke depan wajahmu. Tak ada yang bisa kau lakukan. Itulah keadaan dimana kau berada sekarang. Tak ada yang bisa kulakukan, tak ada apapun yang bisa menolongku. Aku hanya bisa menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh yang menentukan hidup dan matiku. Apa yang akan si pembunuh lakukan? Apa yang akan si pembunuh lakukan? Oh, tidak! dia meletakkan jari telunjuknya pada pelatuk pistol brengsek itu. Aku memohon, mengeluarkan berjuta-juta kalimat agar aku tidak dibunuh oleh si pembunuh yang mungkin akan segera mengakhiri hidupku dalam kurun waktu 1 menit lagi. Aku mencoba sekuat tenaga melepas ikatanku, bagai mencoba menghancurkan tembok hanya dengan jari kelingkingku. Dan aku hanya membuat darah keluar semakin banyak dari kedua pergelangan tanganku.
Ketika seorang pembunuh mengarahkan pistolnya tepat ke depan wajahku. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis, berteriak, bertanya "Kenapa?!" dan berusaha melepas ikatan di tanganku yang sebenarnya, tak bisa dilepas meskipun aku berusaha sekuat apapun. Aku hanya bisa menunggu keputusan yang dibuat oleh si pembunuh. Dan apakah keputusan si pembunuh? Si pembunuh membisikkan sebuah kalimat ke telingaku,
"Sudah berdoa? Semoga surga seindah yang kau kira, dan... sayonara."
Friday, May 1, 2009
Wordpress Blog Designer New York
For many small businesses designing a website is a huge expense. And websites can be very expensive to design and program from scratch. For some business it is a necessity because they require unique functions. However, I have been recommending to some of my clients who have smaller budgets to use a Wordpress Blog as their website. I can create a customized Wordpress blog for you that will have many of the same functions as a regular website and the best part of using Wordpress is it is easy to update the content, link and photos. Contact me at design@caseycoyle.com to learn more about this service.
Thursday, April 30, 2009
Wednesday, April 29, 2009
What's in a name?
".............That which we call a rose
By any other name
Would smell as sweet"
By any other name
Would smell as sweet"
Sebuah ungkapan dalam cerita Romeo dan Juliet, kisah percintaan sepanjang abad buah pena pujangga Inggris William Shakespeare. Mungkin inilah ungkapan paling terkenal yang pernah ada tentang nama.
Tapi enggak bagi nyokap gue. Kira-kira seminggu yang lalu, nyokap gue diramal sama orang. FYI, rumah gue lumayan terkenal 'spooky' dikalangan tetangga, sanak udara dan teman sepermainan. Jadi ceritanya terjadilah (kira-kira) percakapan sebagai berikut antara sang peramal dan nyokap gue:
Peramal: Nama anaknya siapa, Bu?
Emak: Suci Puti Melati
Peramal: Wah, mendingan namanya diganti aja.
Emak: Loh kenapa emangnya Bu? Itu nama pemberian bapaknya.
Peramal: Iya, kalo enggak lebih baik jangan dipanggil Suci atau Puti, panggil nama belakangnya aja, Melati gitu.
Emak: Emang kenapa?
Peramal: Iya, anak ibu sebenernya gak bagus tinggal lama-lama disini (rumah yang sekarang gue tempatin), anaknya gak kuat Bu. Makanya suka sakit-sakitan. Iyakan?
Emak: Eh...iya si Bu. Anaknya emang suka sakit-sakitan.
Peramal: Kan, nama itu sedikit/banyak berpengaruh loh Bu.
...
DAN NYOKAP GUE PERCAYA!
Karna nama 'Melati' itu kepanjangan, sulit dilafalkan dan lagipula gue juga gak mau dipanggil 'Melati' karna bagi gue terdengar seperti nama kelas hotel tempat mesum, jadi emak gua memutuskan untuk memanggil gue dengan nama Melly, Imel, atau.................... Amel????!!^#$%@%@.
Astaghfirullah maaak, itu dosa mak, itu musyrik namanya.
Sudahlah, sekian.
Salam.
Melly k1yUtZz bEUdDh
Tapi enggak bagi nyokap gue. Kira-kira seminggu yang lalu, nyokap gue diramal sama orang. FYI, rumah gue lumayan terkenal 'spooky' dikalangan tetangga, sanak udara dan teman sepermainan. Jadi ceritanya terjadilah (kira-kira) percakapan sebagai berikut antara sang peramal dan nyokap gue:
Peramal: Nama anaknya siapa, Bu?
Emak: Suci Puti Melati
Peramal: Wah, mendingan namanya diganti aja.
Emak: Loh kenapa emangnya Bu? Itu nama pemberian bapaknya.
Peramal: Iya, kalo enggak lebih baik jangan dipanggil Suci atau Puti, panggil nama belakangnya aja, Melati gitu.
Emak: Emang kenapa?
Peramal: Iya, anak ibu sebenernya gak bagus tinggal lama-lama disini (rumah yang sekarang gue tempatin), anaknya gak kuat Bu. Makanya suka sakit-sakitan. Iyakan?
Emak: Eh...iya si Bu. Anaknya emang suka sakit-sakitan.
Peramal: Kan, nama itu sedikit/banyak berpengaruh loh Bu.
...
DAN NYOKAP GUE PERCAYA!
Karna nama 'Melati' itu kepanjangan, sulit dilafalkan dan lagipula gue juga gak mau dipanggil 'Melati' karna bagi gue terdengar seperti nama kelas hotel tempat mesum, jadi emak gua memutuskan untuk memanggil gue dengan nama Melly, Imel, atau.................... Amel????!!^#$%@%@.
Astaghfirullah maaak, itu dosa mak, itu musyrik namanya.
Sudahlah, sekian.
Salam.
Melly k1yUtZz bEUdDh
Subscribe to:
Posts (Atom)


